
PEKANBARU - Sekolah Tunas Bangsa berdiri sejak tahun 2004, dan dire-opening pada April 2016 oleh Yayasan Pendidikan Dharma Tunas Bangsa.
Saat ini memasuki babak baru dengan bergabungnya tokoh tokoh masyarakat yang peduli akan dunia pendidikan, seperti Tarjoko dari Kanwil Kemenag Provinsi Riau, Siswaja Muljadi dari Anggota DPRD Provinsi Riau, Jono dari Persatuan Umat Buddha Indonesia, Edy Surya dan Johan Leo dari MTI.
Kemudian A-ling dari Yayasan Bodi Nanda, Edi Wijaya dari PMA, Rudy Kartadinata dari Pengurus Cetya Dhamma Manggala, Kota Pekanbaru dan Asnawi Tian Sang dari Buddha Tzu Chi Pekanbaru.
Dengan bergabungnya para tokoh masyarakat dalam Yayasan Pendidikan Dharma Tunas Bangsa, tentu akan memberikan banyak masukan yang bermanfaat untuk kelangsungan pendidikan, peningkatan mutu, sarana dan prasarana seperti perbaikan gedung, pengadaan Labor Komputer, pelatihan guru-guru, serta ditambahkannya mata pelajaran Budi Pekerti yang akan dimulai pada tahun ajaran 2019-2020.
Pelajaran Budi Pekerti sangat dibutuhkan untuk membangun mental, perilaku, tata etika dan bakti anak kepada orang tua.
Para tokoh masyarakat yang tergabung menyatakan sangat bangga atas perhatian dan kegigihan Sir Harry dalam mengembangkan Sekolah Tunas Bangsa selama 3 tahun lebih, di bawah pengelolaan beliau, sekolah yang tadinya hanya mempunyai peserta didik 33 siswa/siswi kini telah berkembang menjadi hampir 300 siswa/siswi.
"Kini saatnya Pak Harry untuk beristirahat, kami akan berusaha untuk mengelola dan memberikan kontribusi untuk kemajuan sekolah Tunas Bangsa," begitu sambutan yang diberikan oleh Bapak Tarjoko.
Lebih lanjut ditambahkan oleh Pak Jono, Bapak Harry sekarang adalah Pembina di Yayasan Pendidikan Dharma Tunas Bangsa, dan kami sangat bangga dapat bergabung di dalamnya, untuk bersama sama menjadikan Sekolah Tunas Bangsa sebagai sekolah favorit di kota Pekanbaru.