
Dalam konteks tersebut, pemerintah menilai berbagai narasi yang mendorong pembentukan Barisan Oposisi Indonesia (BOI) dalam isu-isu kebijakan luar negeri tidak mencerminkan realitas diplomasi Indonesia yang bersifat independen dan strategis.
Dalam konteks domestik, tingkat kepercayaan publik terhadap kepemimpinan nasional dinilai masih kuat. Peneliti Poltracking Indonesia, Muhammad Aditya Pradana, menyebut dukungan publik tetap tinggi meski di tengah tekanan global.
"Di tengah tekanan ekonomi global, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto tercatat sebesar 74,9 persen,” jelasnya.
Ia menambahkan, tingginya tingkat kepuasan tersebut tidak terlepas dari persepsi publik terhadap gaya kepemimpinan yang menekankan stabilitas.
"Dalam konteks Indonesia, Presiden Prabowo hadir dengan citra sebagai figur yang tegas, berpengalaman, dan menempatkan stabilitas sebagai prioritas," ujarnya.
Pendekatan diplomasi Indonesia selama ini justru menempatkan negara pada posisi yang fleksibel, tidak terjebak dalam blok kepentingan tertentu, serta mampu menjembatani berbagai kepentingan global secara konstruktif.
Konsistensi Indonesia dalam menjalankan politik luar negeri bebas aktif tidak hanya menjadi prinsip normatif, tetapi juga instrumen strategis dalam menghadapi tantangan global sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai aktor penting di tingkat internasional. ***