
Oleh: Hadimihardja
Mendidik bukan mengisi ember kosong. Mendidik itu menyalakan api. Tapi di Riau, banyak guru disuruh isi ember pakai RPP 10 lembar, bukti dukung PMM, dan format E-Kinerja. Apinya? Padam.
Hasilnya telanjang di Rapor Pendidikan 2024: Literasi 64,88. Angka itu tidak gerak satu koma pun selama tiga tahun. Numerasi 58,12, di bawah nasional 61,3. Iklim Keamanan Sekolah 65,93, masuk kategori tidak aman. Sementara Angka Partisipasi Sekolah 16-18 tahun cuma 78,64%. Terendah se-Sumatera. 160.117 anak memilih di luar kelas.
Kita hebat cetak administrasi. Gagal cetak pemahaman. Kenapa? Karena guru dipaksa menghafal, bukan mendidik. Dipaksa kuasai aplikasi, lupa kuasai jiwa, cara, dan hati.
Tiga Ilmu Mati, Tiga BENCANA Di Kelas
1. Guru Buta ILMU JIWA: Anak Trauma DIHUKUM, Bukan DIRANGKUL
Ilmu Jiwa itu kemampuan baca anak. Paham kalau anak susah baca belum tentu bodoh, bisa jadi disleksia. Paham kalau anak muter di kelas belum tentu nakal, bisa jadi ADHD. Paham kalau anak diam bukan penurut, bisa jadi korban bullying.
Faktanya? Iklim Keamanan Sekolah 65,93. Artinya 1 dari 3 anak merasa tidak aman di sekolah. Guru tidak dilatih deteksi trauma. Pelatihan guru soal kesehatan mental? Setahun sekali, 2 jam, via Zoom.