
1. Wajibkan 20 JP Ilmu Jiwa Tiap Tahun. Bukan teori. Praktik. Datangkan psikolog klinis, ajari guru deteksi disleksia, ADHD, trauma, depresi remaja. Ujiannya: studi kasus, bukan pilihan ganda. Lulus = dapat insentif. Tidak ikut = tunjangan ditahan. Biar adil.
2. Audit Didaktik Metodik Pakai Skor Literasi. Dana BOS Kinerja cair kalau Literasi sekolah naik 2 poin. Tidak naik = kepala sekolah dan pengawas ikut diklat ulang. Selama ini yang dihukum kalau nilai jelek cuma murid. Balik. Sekarang sistem yang dihukum kalau cara mengajarnya gagal.
3. Kembalikan 30% Jam Guru Untuk “mengobrol”.Hapus 3 administrasi tidak penting. Ganti dengan “Jam Hati”: 1 jam per hari guru wajib mengobrol 1-on-1 dengan murid, tanpa nilai, tanpa laporan. Cukup catat: “Hari ini Doni cerita ayahnya sakit”. Itu paedagogik. Itu yang bikin anak tidak putus sekolah.
Mendidik itu kerja jiwa, kerja cara, kerja hati. Bukan kerja hafal. Kalau guru cuma disuruh hafal modul, anak cuma disuruh hafal buku. Hasilnya sama: sama-sama tidak paham.
Literasi 64,88 itu alarm. Iklim Keamanan 65,93 itu sirine. 160 ribu anak di luar itu korban.
Jadi berhenti cetak guru jago ADM. Mulai cetak guru yang paham jiwa anak, jago cara mengajar, dan kaya hati. Karena kelas bukan tempat hafalan. Kelas tempat menyalakan api. Dan api tidak akan nyala kalau gurunya sendiri dingin. ***
*) Penulis : Pemerhati Pendidikan Riau.