
Musibah yang dipicu hujan ekstrem sejak Selasa (25/11) itu merendam ribuan rumah, menyeret material lumpur hingga menutup jalan nasional di Lubuk Minturun, dan memaksa warga mengungsi ke puluhan titik posko. Koto Tangah, Nanggalo, dan Pauh menjadi kecamatan dengan kerusakan paling parah.
Pada Kamis (27/11), Wali Kota Padang Fadly Amran menginstruksikan pemanfaatan dapur SPPG sebagai dapur umum darurat. Sekolah sedang diliburkan, sehingga kapasitas dapur dapat dialihkan sepenuhnya untuk warga. “Makanan yang biasanya disiapkan untuk siswa kini kami fokuskan untuk pengungsi,” ujarnya.
GAPEMBI Sumbar bergerak cepat. Sebanyak 46 dapur SPPG dan seluruh dapur anggota GAPEMBI menyalakan tungku mulai pagi. Tim memasak menu bergizi dengan standar yang sama seperti sajian sekolah, kemudian mendistribusikannya ke posko di sembilan kecamatan terdampak.
“Yang kami pikirkan sederhana: warga butuh makan, dan kami punya kemampuan menyediakan makanan bergizi dalam jumlah besar,” kata Agung.
Sejumlah pejabat yang memantau penyaluran bantuan menyebut makanan siap saji itu sangat membantu warga yang belum bisa memasak karena rumah mereka terendam atau jaringan listrik belum stabil.
Dua rangkaian bantuan itu — dukungan internal bagi relawan dan distribusi puluhan ribu porsi makanan — menegaskan peran GAPEMBI bukan sekadar penyedia layanan makanan bergizi, tetapi juga bagian dari simpul solidaritas kemanusiaan. Di tengah bencana, jaringan dapur dan relawan GAPEMBI menjadi penghubung antara kebutuhan darurat dan kepedulian sesama. (*)