
Setelah kehadiran panjang Inggris dalam industri minyak Iran, Mosaddegh menggalang sentimen rakyat untuk mengusir mereka dari sumber daya Iran.
Nasionalisasi perusahaan Minyak Anglo-Iranian (AIOC; kini dikenal sebagai BP) oleh Mosaddegh mengakibatkan operasi diplomatik dan intelijen rahasia pertama Washington.
Operasi Ajax, sebagaimana terungkap melalui dokumen CIA yang diklasifikasi pada 2013 merupakan hasil kolaborasi CIA, MI6 Inggris, dan Dinasti Pahlavi yang didukung AS.
Operasi ini mengandalkan propaganda untuk melancarkan kudeta terhadap Mosaddegh yang kemudian digantikan Shah Reza Pahlavi. Pada 1954, Shah membalikkan upaya Mosaddegh dan menandatangani Perjanjian Konsorsium Iran yang memberikan kendali operasional produksi, pengilangan, dan ekspor minyak Iran kepada perusahaan-perusahaan Barat.
Telegram dari Duta Besar AS untuk Inggris pada 1954 menyebutkan bahwa saham pasar ‘market share’ dibagi, dimana AIOC menerima 40 persen, lima perusahaan AS menerima 40 persen, dan 20 persen sisanya dibagi antara perusahaan-perusahaan Belanda dan Prancis.
Shah mencoba membatalkan Perjanjian Konsorsium pada 1973 dengan menolak perpanjangannya. Dukungan Barat terhadap rezimnya perlahan menyurut. Bahkan pemimpin pilihan Washington di Teheran pun ternyata bisa dikorbankan begitu ia mencoba meraih kembali minyak Iran. Pembatalan tersebut dirampungkan dengan Revolusi Islam 1979.
Para sejarawan kebijakan luar negeri AS, termasuk Mary Ann Heiss, kemudian membenarkan kudeta 1953 dengan menyebutnya sebagai keharusan ‘untuk menyelamatkan Iran dari dominasi komunis.’