
Perang tahun 2026 di Iran bukanlah kasus yang luar biasa, dan modus operandinya bukanlah hal baru bagi Iran. Dari pemerintahan Mosaddegh pada 1953, AS telah belajar bagaimana menjalankan pergantian rezim melalui narasi-narasi kebutuhan yang dirancang, dan dengan Indonesia pada tahun 1965, AS memiliki struktur yang jelas untuk diterapkan.
Sejarah menunjukkan bahwa tantangan terhadap akses sumber daya Washington sering kali berujung pada gesekan geopolitik. Mungkin, seandainya Washington dan CIA tidak melancarkan Operasi Ajax, banyak negara di dunia tidak akan mengalami pergantian rezim sesuai keinginan Washington.
Mengamati peristiwa yang dialami Iran seharusnya menjadi pengingat bagi Indonesia untuk tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip politik luar negeri ‘Bebas-Aktif’.
Khusus untuk saat ini, ‘pasar bebas’ global tetap asimetris dan seringkali bersyarat berdasarkan kepentingan strategis kekuatan-kekuatan Barat yang dominan. Bebas bagi Amerika Serikat dan bersyarat bagi semua negara lainnya.
*) Mumtaza Chairannisa adalah peneliti di AMECRD. Karyanya mengeksplorasi titik-titik persinggungan antara sejarah maritim, warisan budaya, jaringan transnasional, agama, politik, dan perdagangan di kawasan Asia Tenggara dan Samudra Hindia. Ia meraih gelar sarjana dari Sciences Po Paris dan University of California, Berkeley, serta gelar MPhil dari University of Cambridge.