
Murid yang merdeka adalah murid yang berani salah dan tetap aman. Di Riau, salah sedikit masih berujung remidi, ranking, dan omelan panjang di rumah.
3. Merdeka Ekosistemnya? Rapor Pendidikan Belum Hijau
Kalau kita jujur membuka Rapor Pendidikan 2025 dari Kemdikbud, potret Riau belum menggembirakan. Untuk kemampuan literasi, skor Riau baru di angka 68,2. Angka ini masih di bawah rata-rata nasional yang sudah 71,4. Artinya, kemampuan anak Riau memahami bacaan masih tertinggal.
Untuk numerasi, kondisinya lebih perlu perhatian. Skor Riau hanya 65,9 dan masuk kategori perlu intervensi. Ini sinyal bahwa banyak siswa belum cakap berhitung dasar dan berpikir logis.
Lalu soal iklim keamanan sekolah, nilainya 73,1. Terlihat cukup, tapi catatan Kemdikbud mengingatkan bahwa kasus perundungan masih terjadi. Artinya, anak belum sepenuhnya aman dan nyaman di sekolah.
Terakhir, indikator kebinekaan global nilainya 70,5 dengan status baru tahap berkembang. Wawasan siswa Riau soal toleransi, keberagaman, dan isu dunia masih harus terus dikuatkan.
Dari empat indikator utama itu, belum ada satu pun yang statusnya baik. Literasi di bawah nasional, numerasi minta ditolong, keamanan sekolah masih PR, dan kebinekaan baru tumbuh. Padahal 89 persen sekolah di Riau sudah terakreditasi A dan B. Di sinilah letak kontradiksinya. *Layak di kertas, belum tentu hebat di kelas.*
4. Titik Terang yang Mulai Tumbuh di Riau
Kritik tanpa solusi tidak adil. Kabar baiknya, semangat merdeka itu sudah mulai tumbuh. Komunitas Belajar.id di Riau makin hidup. Guru-guru saling berbagi modul di PMM tanpa menunggu instruksi dinas. Beberapa Sekolah Penggerak di Siak dan Kampar sudah berani memakai sistem blok waktu agar P5 tidak sekadar menumpang jam pelajaran lain. Bahkan TPA dan Madrasah Diniyah mulai memakai metode permainan untuk mengajar iqra. Itu Merdeka Belajar rasa lokal.