
Kita tak bisa lagi menyebutnya sekadar musibah ketika penyebab-penyebabnya begitu telanjang: deforestasi, perusakan DAS, alih fungsi hutan, tambang rakus, dan tata kelola lingkungan yang porak-poranda.
Yang menyedihkan, semua itu berlangsung di bawah pengawasan negara, disaksikan oleh perguruan tinggi, difasilitasi oleh pihak ketiga, dan ditanggung akibatnya oleh rakyat kecil.
Negara Terlalu Sibuk Mengurus Pertumbuhan, Lupa Mengurus Keberlanjutan
Pemerintah di berbagai level sering berlindung di balik retorika “pembangunan”, tetapi abai terhadap fakta ilmiah bahwa: 60% DAS di Indonesia berada dalam kondisi kritis. Kedua, ratusan izin tambang tumpang tindih dengan kawasan lindung,
Ketiga, perubahan penggunaan lahan tak disaring oleh kajian risiko, dan keempat, mitigasi bencana lebih sering menjadi proyek, bukan kebijakan.
Bencana bukan turun dari langit. Bencana adalah buah dari pilihan. Dan pilihan yang diambil bertahun-tahun adalah memanjakan investasi yang merusak, bukan memulihkan alam yang menopang hidup rakyat.
Negara seolah hadir hanya ketika korban berjatuhan, bukan ketika kerusakan dimulai.