
Perguruan Tinggi Terjebak Dalam “Menara Gading Administratif”
Kampus selalu didengungkan sebagai pusat ilmu. Tetapi pertanyaannya sederhana: di mana suara kampus ketika bukit dihancurkan? dimana riset-riset yang seharusnya menahan izin yang salah arah?
Profesor dan doktor menulis jurnal internasional, tetapi tidak menulis nota keberatan ketika sungai dipersempit.
Diskusi ilmiah ramai, tetapi tak pernah menjadi tekanan moral yang mengguncang kebijakan.
Ketika ilmu tidak lagi menjadi suara nurani bangsa, maka kampus telah kehilangan fungsi utamanya sebagai penuntun peradaban. Ia sibuk mengurus akreditasi, lupa mengurus kenyataan.
Pihak Ketiga Menguasai Ruang Kebijakan Lingkungan.
Korporasi datang dengan proposal “pembangunan”, tetapi sering meninggalkan lubang tambang menganga, tebing rapuh, sungai tercemar, dan masyarakat yang kehilangan ruang hidup.