
Oleh Mumtaza Chairannisa
Konflik yang tengah berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat bukanlah hal yang mengejutkan dan bukan pula hal yang baru. Ini adalah gema dari pergantian rezim di era Perang Dingin di negara-negara pascakolonial.
Pada 1953, Mohammad Mosaddegh menjadi korban pertama pergantian rezim oleh Washington, sementara Peristiwa 1965 di Indonesia merupakan bentuk yang lebih berkembang dari strategi intervensi Perang Dingin yang kemudian dikenal sebagai ‘Metode Jakarta.’
Perang Dingin, sebagaimana lazim dipahami, terjadi antara dua pihak: Amerika Serikat dan Uni Soviet, namun konfliknya sangat mengganggu jalannya pemerintahan di negara-negara pascakolonial.
Penelitian terkini, seperti karya Vincent Bevins dalam “The Jakarta Method” menyebutkan, kawasan-kawasan lain, termasuk Sri Lanka, Amerika Latin, dan Asia Tenggara terpaksa terseret dalam konflik ini.
Bevins menyerukan sudut pandang yang lebih luas dalam kajian Perang Dingin, mencakup pihak-pihak yang terdampak dan mereka yang masih menanggung akibat jangka panjang dari warisannya.
Konteks ‘Perang Dingin yang Panas’