
Realita di Riau: 1 periode kerja habis untuk “silaturahmi”, “audiensi”, “FGD penyamaan persepsi”. Hasilnya 1 buku rekomendasi yang nasibnya jadi ganjal pintu Kadis.
Ketika 1.342 aduan masyarakat masuk soal pungli, seragam, dan mutasi guru, auman macan tidak kedengaran. Ketika 160.000 anak usia SMA tidak sekolah, taring macan tidak nampak. Ketika 18.432 guru honorer telat gaji 3 bulan, cakar macan tidak mencengkeram.
Macan yang cuma makan dan tidur namanya kucing. Kucing anggora pula. Mahal tapi tidak bisa jaga rumah.
2. 3 Sebab Kenapa Macan Jadi Ompong
Pertama: Ompong Karena Kenyang Dikasih Makan Tuan
Anggaran Dewan Pendidikan dari APBD. Sekretariat di kantor dinas. SK dari gubernur. Secara struktur, macan ini dipiara sama yang harusnya diawasi.
Gimana mau gigit tangan yang kasih makan? Akhirnya macan ini pilih aman: jadi “mitra strategis”. Bahasa halusnya: tidak berani ganggu.
Kedua: Ompong Karena Takut Dicabut Taringnya
Anggota Dewan Pendidikan banyak pensiunan pejabat dan tokoh “sepuh”. Sudah capek berantem. Masuk dewan biar tetap “dihormati”, bukan buat perang gagasan.